Add Logo PEMILIHAN TOUCH KOREA TOUR PENGALAMAN TIM EVENT

08 July 2011

[END] Music, Dream and Love

Akhirnya hari yang ditunggu oleh Hyun Soo dan Jung Ah pun tiba. Hari dimana mereka akan memberikan yang terbaik setelah selama beberapa minggu mereka berlatih bersama. Namun rasa senang Hyun Soo tidak terlalu terpancar meskipun ia tersenyum kepada setiap orang yang ia temui di sepanjang koridor sekolah, meskipun ia tersenyum kepada setiap orang yang memberikan ucapan semoga sukses maupun semoga berhasil. Dan meskipun ia dipuji untuk pertama kalinya oleh Jung Ah semalam sebelum hari ini tiba.


“Kau pemain piano yang terbaik yang pernah kutemui di Korea, Kim Hyun Soo. Aku bangga bisa berduet denganmu. Aku berharap aku dapat bertemu dan berduet denganmu lagi.”


Memang akhirnya Hyun Soo dinyatakan memenangkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan musiknya di Eropa, bahkan sebelum ia konser, panitia beasiswa sudah memberitahu Hyun Soo akan berita baik tersebut. Langsung saja berita ini menyebar ke seluruh penjuru sekolah. Hyun Soo dinyatakan memenangkan beasiswa ini karena ternyata banyak yang merekomendasikan Hyun Soo dan panitia melihat sendiri rekam jejak pendidikan Hyun Soo didunia musik yang gemilang. Tidak heran jika panitia langsung mengambil keputusan tanpa melihat konser Hyun Soo, dengan begitu, konser ini tidak terlalu menjadi beban bagi Hyun Soo. Ia hanya tinggal bermain untuk menghibur semua penonton yang hadir di aula sekolahnya hari itu. Dan dengan Hyun Soo memenangkan beasiswa tersebut, mau tidak mau ia harus pergi ke Eropa 4 hari setelah konser sekolahnya berlangsung. Dan itulah yang membuat Hyun Soo tidak seceria semua peserta konser yang perasaannya sedang campur aduk, terutama mereka yang seangkatan dengan Hyun Soo, yang memperebutkan kursi beasiswa yang tersisa 4 kursi lagi.


“Hyun Soo-ah!” panggil Min Hae berteriak dari belakang Hyun Soo dengan jarak yang cukup jauh. Min Hae buru-buru menghampiri Hyun Soo dan mereka berjalan bersama.


“Kau kelihatan tidak bersemangat.” sambung Min Hae.


“Oh ya? Mungkin aku hanya sedikit gugup.” balas Hyun Soo berbohong.


“Gugup? Kau bercanda?” ledek Min Hae tidak percaya.


“Tsk. Untuk apa aku bercanda. Walaupun aku sering lomba atau konser, tapi rasa gugup itu pasti ada disetiap performance ku. Apa kau tidak pernah gugup setiap kali kau akan bertanding?”


“Tidak.”


“Kau memang tidak punya perasaan.” balas Hyun Soo tersenyum kecil dan mereka sedang melewati ruang musik dan mendapatkan Jung Ah sedang berada didalam ruang musik. Hyun Soo memberi kode kepada Min Hae untuk lebih dahulu pergi ke aula dan Min Hae langsung meninggalkannya didepan ruang musik. Hyun Soo masuk kedalam dan menghampiri Jung Ah yang sedang berdiri di depan rak-rak buku tinggi diruang musik sekolahnya.


“Jung Ah, apakah kau gugup?” tanya Hyun Soo dari belakang. Jung Ah sedikit tersentak dari lamunannya.


A little bit.” jawab Jung Ah. Ia berbalik badan dan mendapatkan Hyun Soo yang terlihat “sempurna” dengan jas hitam, vest hitam, dasi hitam dan kemeja putih yang ia kenakan hari itu. Dalam beberapa detik mereka terdiam, secara tidak langsung saling mengagumi apa yang mereka lihat. Hyun Soo jelas terperangah melihat Jung Ah yang terlihat feminin dengan gaun berwarna hitam panjang dengan model bahu terbuka dan rambut sebahu miliknya yang digelung keatas dan diberi hiasan berwarna hitam yang mempermanis penampilannya. Riasan yang tidak berlebihan juga memberikan nilai lebih untuk penampilan Jung Ah malam itu.


“Bagaimana denganmu?” tanya Jung Ah memecah kesunyian.


“Sama, a little bit.” jawab Hyun Soo yang masih memperhatikan Jung Ah dari atas hingga bawah. Jung Ah berjalan keluar dari ruang musik, melewati Hyun Soo yang masih berdiri ditempatnya.


“Sampai kapan kau akan berdiri disitu, bodoh? Konser akan segera mulai, ayo kita ke aula.” ucap Jung Ah sebelum ia benar-benar meninggalkan ruang musik. Hyun Soo segera keluar dari ruang musik dan berjalan menuju aula bersama Jung Ah. Sepanjang jalan, Hyun Soo terus memperhatikan Jung Ah yang terus berjalan tanpa ingin mengatakan sepatah dua patah kata kepada Hyun Soo.


“Jangan sampai gara-gara kau terus memperhatikan ku kau jadi menabrak tong sampah didepan.” ucap Jung Ah. Hyun Soo refleks melihat kedepan dan benar saja ia hampir menabrakn tong sampah milik sekolahnya yang cukup besar. Jung Ah tertawa kecil.


“Kau, mau pergi ke Eropa saja masih bertingkah bodoh.” lanjut Jung Ah tanpa melihat ke arah Hyun Soo.


“Terus saja kau katakan aku ‘bodoh’. Kau pasti akan merindukan tindakan ‘bodoh’ku selama aku ada di Eropa nanti.” balas Hyun Soo, tetap tidak mau kalah.


“Tsk, masih saja kau keras kepala.”


“Siapa yang keras kepala? Aku hanya berbicara yang sebenarnya.”


Jung Ah terdiam dan berpikir. Apakah benar ia akan merindukan Hyun Soo dan semua hal yang telah ia lakukan bersama selama ini. Sering ia berpikir ia tidak ingin hari konser ini tiba. Rasanya ia ingin kembali ke saat pertama kali mereka berlatih bersama dan ia ingin mengulur waktu selama mungkin hanya untuk bersama Hyun Soo. Jung Ah kembali bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah aku benar-benar mencintainya?” Ia merasa ada sebagian kecil dari dirinya yang tidak rela ketika mendengar kabar beasiswa itu. Bukan karena iri, hanya saja sebagian kecil dari dirinya akan merasa kehilangan...


***


Konser sekolah itu berlangsung selama 3 jam, ditambah dengan selingan dari penampilan ansambel klub musik dan juga pengumuman pemenang beasiswa. Permainan Hyun Soo dan Jung Ah pun sukses memukau hati penonton yang datang pada malam itu. Mereka memberikan penampilan yang benar-benar maksimal. Tidak ada kecanggungan diantara keduanya. Kedua orangtua Jung Ah dan adik lelaki Jung Ah, Yoon Ah pun tersenyum puas melihat performa anak dan kakak mereka pada malam itu. Mereka tidak percaya bakat bermain piano memang benar-benar dimiliki Jung Ah. Sementara kedua orangtua Hyun Soo yang duduk disebelah orang tua dan adik Jung Ah tersenyum bangga dan puas terhadap apa yang berhasil Hyun Soo raih sampai sejauh ini. Menjelang konser berakhir, Hyun Soo kembali ke atas panggung dan berdiri dibelakang standing mic yang sudah disiapkan.


“Selamat malam semuanya. Saya pertama-tama ingin berterima kasih untuk kesempatan yang boleh diberikan pada hari ini kepada saya, untuk dapat menghibur para hadirin sekalian. Saya juga ingin berterima kasih kepada setiap orang yang telah mendukung saya sampai sejauh ini dan juga kepada panitia atas keputusannya untuk meloloskan saya dalam beasiswa tahun ini. Saya sangat bersyukur karena ini semua tidak akan terjadi tanpa usaha dan juga doa-doa dari orang-orang disekitar saya. Dan pada saat ini, saya ingin membalas kebaikan semua orang yang telah mendukung saya, terutama untuk seseorang. Seseorang yang selama ini secara tidak langsung telah menjadi motivator saya. Dan lagu terakhir yang akan saya bawakan malam ini, akan saya persembahkan untuk motivator saya, Nona Lee Jung Ah."


Hyun Soo menghentikan ucapannya, lalu ia kembali melanjutkan kata-katanya yang terputus, "Jung Ah ssi, pertanyaanmu selama ini akan terjawab sekarang. Ku harap kau menyukainya...”


Hyun Soo langsung berjalan menuju grand piano yang tersisa satu diatas panggung dan diletakkan di tengah-tengah panggung. Ia duduk dan langsung memainkan sebuah lagu, yang belum pernah didengar oleh siapapun sebelumnya kecuali Jung Ah, yang sudah melihat partiturnya dan menghafal beberapa nadanya. Jung Ah terpaku terdiam disisi panggung, mendengar ucapan Hyun Soo. Kalimat-kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya. Rasanya, kakinya terlalu lemas untuk berdiri lama disisi panggung, melihat Hyun Soo dengan pantulan cahaya yang menyorotinya dan mendengar lagunya.


“Jadi selama ini...”


Jung Ah tidak mampu berucap dalam hati. Tanpa ia sadari air mata mengalir pelan diatas pipinya dan ia tersenyum. Tersenyum mengenang semua hal yang ia pernah lakukan bersama Hyun Soo. Dan sekarang, sebagian kecil dari dirinya merasa sudah rela untuk tidak bertemu Hyun Soo selama beberapa tahun. Hyun Soo selesai memainkan lagunya. Semua berdiri memberikan tepuk tangan terakhir untuk Hyun Soo. Konser berakhir dengan gemuruh tepuk tangan yang meriah. Hyun Soo bangkit dan memberikan hormat terakhir dari atas panggung kepada semua para hadirin. Lalu ia menoleh ke arah sisi panggung dan mendapatkan Jung Ah yang berdiri disana dan tersenyum sambil menangis terharu.


“Berhenti kau mata air bodoh..” gerutu Jung Ah sendiri. Lalu panggung menjadi gelap dan tirai pun langsung menutup panggung tersebut sementara lampu penonton kembali menyala. Semua perlahan-lahan keluar dari aula sekolah itu. Hyun Soo bergegas menghampiri Jung Ah. Ingin rasanya Jung Ah lari terlebih dahulu, namun kaki nya seperti melarang dirinya pergi dari situ. Hyun Soo berdiri di hadapannya dan kedua tangannya memegang pipi Jung Ah. Ibu jarinya menghapus air mata Jung Ah yang masih mengalir.


Yah! Kau menangis? Dasar bodoh.” ucap Hyun Soo lalu ia memeluk Jung Ah sesaat lalu melepaskannya dan ia memegang kedua bahu Jung Ah.


“Hentikan air matamu itu. Kita belum foto bersama dengan yang lain. Kau mau foto dengan lunturan maskara dan mata sembab?”


“Tapi aku tidak bisa hentikan air mata ini! Aku memang bodoh.”


Dan Hyun Soo kembali memeluk Jung Ah lebih dalam.


“Menangislah, walaupun aku tidak tahu mengapa kau menangis. Seharusnya kau berterima kasih padaku.” ucap Hyun Soo tanpa balasan dari Jung Ah. Hyun Soo tidak melepas pelukannya sampai Jung Ah mulai merasa air matanya berhenti mengalir dan ia melepaskan diri dari pelukan Hyun Soo.


“Maaf, aku tidak tahu harus kumulai dari mana. Perasaanku benar-benar campur aduk. Jujur, sebagian dari diriku benar-benar tidak rela jika kau pergi, karena aku pasti merasa kehilangan. Tetapi sebagian lagi menginginkan kau pergi, agar aku bisa melihatmu menjadi pianist sukses. Dan sekarang, kau mainkan lagu ciptaanmu untukku. Aku senang, tetapi aku kembali sedih karena aku ingat kalau kau akan pergi jauh dalam waktu yang lama.” Jung Ah menjelaskan secara singkat tentang perasaannya saat itu. Hyun Soo tersenyum kecil.


“Intinya?”


“Aku menyukaimu.”


Mwo?”


“Aku menyukaimu.”


Mwo?”


“Bukan apa-apa. Aku mau pulang.” ucap Jung Ah sedikit kesal. Ia sekarang merasa benar-benar bodoh akan ucapan yang baru saja ia lontarkan. Tidak seharusnya ia berkata begitu kepada Hyun Soo. Hyun Soo pasti akan menganggapnya sebagai lelucon. Tangannya menghapus air matanya yang tersisa di pipinya dengan gusar dan ia buru-buru berbalik badan pergi meninggalkan Hyun Soo. Tetapi, Hyun Soo menarik tangannya dan langsung mencium bibir mungil Jung Ah.


“Aku juga menyukaimu. Saranghaeyo~..” ucap Hyun Soo setelah mencium Jung Ah. Raut wajah Jung Ah langsung berubah. Wajahnya memerah dan ia tidak dapat berkata apa-apa.


“Ucapkanlah sesuatu, Jung Ah!” Hyun Soo tidak sabar sendiri dengan tingkah Jung Ah yang hanya diam saja seperti patung. Hyun Soo sesaat ingin emosi, namun ia mengendalikannya, mengingat ia baru saja melakukan sesuatu yang mungkin mengejutkan bagi Jung Ah.


“Baiklah, jika kau memang tidak mau bilang apa-apa. Aku mengerti.” ucap Hyun Soo dengan lembut. Sesaat, keduanya sama-sama kembali dalam kebisuan. Suara-suara penonton perlahan-lahan tidak lagi terdengar. Dan sepertinya hanya tersisa mereka berdua disana. Semua peserta konser pasti sibuk berfoto ria, terutama mereka yang memenangkan beasiswa.


“Lee Jung Ah...” Hyun Soo memecah kebisuan, bersuara lirih memanggil sosok dihadapannya.


Jung Ah yang sedari tadi menunduk, mengangkat kepalanya perlahan, “Ne?”


Hyun Soo berdeham pelan, “Maukah kau, jadi pacarku?”


Jung Ah tidak menjawab Hyun Soo, tetapi langsung menatap mata Hyun Soo lekat-lekat. Mata bulatnya yang terlihat sedikit sembab akibat menangis tadi sedikit membesar.


“Kenapa kau memperhatikanku seperti itu? Apa aku salah mengutarakan perasaanku?” tanya Hyun Soo dengan sedikit malu. Kali ini giliran dia yang mengutuk dirinya sendiri atas ucapannya barusan.


“Tidak. Tidak ada yang salah darimu. Aku bahkan tidak tahu harus menyalahkanmu darimana untuk semua perbuatan yang kau lakukan barusan. Hanya saja... Aku sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja kualami dan kuucapkan. Seperti mimpi...” jawab Jung Ah panjang lebar.


“Jadi, kau mau atau tidak? Dapatkah kau menjawabnya saat ini?” tanya Hyun Soo kembali. Jung Ah tersenyum jahil.


“Menurut kau? Setelah aku menangis dan bukan tersenyum bangga akan lagu ciptaanmu.” jawab Jung Ah menggantung.


“Kau, mau?”


Jung Ah langsung memeluk Hyun Soo dengan sedikit berjingkat, karena tetap saja walaupun ia memakai sepatu hak tinggi, ia tidak dapat menggapai leher Hyun Soo.


“Tentu saja aku mau, Hyun Soo oppa.” jawab Jung Ah berbisik di telinga kiri Hyun Soo. Senyum benar-benar mengembang diwajahnya. Hyun Soo langsung memeluk Jung Ah dengan erat, mengangkatnya dan memutarnya.


“Pelan-pelan Hyun Soo!” teriak Jung Ah ketika ia diputar oleh Hyun Soo. Hyun Soo langsung saja menuruni Jung Ah dan melepaskannya dari pelukannya.


“Maafkan aku, ada yang sakit?” tanya Hyun Soo lembut. Wajahnya menggambarkan sedikit kecemasan, takut saja kalau hanya karena ia terlalu bahagia ia harus menyakiti pacar barunya itu.


“Tidak. Jangan kau pasang wajah seperti itu, Hyun Soo!” jawab Jung Ah sambil tertawa geli melihat wajah Hyun Soo yang terlihat benar-benar cemas. “Aku tidak apa-apa. Percayalah.” sambung Jung Ah sambil tersenyum. Dan tiba-tiba saja, seseorang keluar dari tempat persembunyiannya.


“Maafkan aku sebelumnya, aku tidak bermaksud untuk mencari tahu apa yang kalian telah lakukan disini. Aku hanya ingin memanggil kalian, tetapi...”


Hyun Soo buru-buru merangkul dan membekap mulut sahabatnya itu. Min Hae keluar dari balik Grand Piano yang masih berada diatas panggung.


“Sejak kapan kau ada disitu, Min Hae-ah?” tanya Hyun Soo menginterogasi. Wajahnya memerah.


“Sejak kau mencium pacarmu. Aku sengaja menerobos tirai. Tidak kusangka....” jawaban Min Hae terpotong, lagi-lagi Hyun Soo membekap mulut sahabatnya itu.


“Tsk. Kau! Pelan-pelan kalau bicara.”


Jung Ah terkekeh pelan. Ia geli melihat tingkah Hyun Soo yang malu dengan sahabatnya sendiri.


“Hyun Soo-ah, lepaskanlah. Kau tidak malu dengan pacar barumu? Sudah punya pacar masih saja bertingkah seperti anak kecil..” ucap Min Hae ketika Hyun Soo melepas tangan dari mulutnya. Hyun Soo buru-buru melepas rangkulannya itu. Min Hae membenarkan jas nya yang sedikit kusut.


“Jadi, sekarang, temanku sudah resmi dengan Lee Jung Ah? Ku harap kalian tidak menciptakan perang dunia ketiga hanya karena kalian sama-sama keras kepala.” celetuk Min Hae jahil. Hyun Soo menjitak pelan kepala sohibnya dan langsung menggandeng tangan Jung Ah dan meninggalkan Min Hae yang masih mengelus-elus kepalanya. Tidak lama kemudian, Min Hae berlari menghampiri sahabatnya lalu merangkulnya dari sisi kiri Hyun Soo. Dan mereka pun berjalan bertiga keluar dari ruangan aula sekolah mereka.


THE END


3 comments:

Stephanie Naomi said...

Akhirnya selesai cerita yang awalnya ditulis cuma karena iseng2 dan ide yang nongol mendadak. Udah banyak cerita yang disimpen di laptop, tapi biasanya mereka akan bernasib buruk: masuk recycle bin alias GATOT. Kadang2 suka butek tengah jalan, suka bosen sendiri sama jalan ceritanya, suka bingung mau dilanjutin kaya gimana (soalnya kadang2 suka nulis spontan). Tapi akhirnya ini yg bener2 pertama kali selesai dan langsung dipublikasikan tanpa malu2. HAHAHA terima kasih bagi yang sudah membaca, setia membaca dari part 1, walaupun ini agak2 sedikit Korea (karena memang saya cinta negara itu >.<") hehehe :p intinya saya terima kasih buat semua yang udah baca dan kasih masukkan, saran kritik untuk cerita selanjutnya yang lebih baik lagi! Maaf kalau jarak antara postingan part 4 ke part 5 cukup jauh dan lama, sempet butek, tapi sayang kalo dibiarin tengah jalan (karena ternyata ada beberapa orang yang ngikutin :p) jadi sekarang... yah sampailah pada kata2 THE END. Tapi ada yang merasa ending nya gantung? Atau jelek? Tenang.... Akan ada surprise. Tunggu saja. Keep stalking my blog. Emuwaaah! :*




Lots of love
Stephanie Naomi

lovepathie said...

dari semua tulisan lo, ini paling bagus. Gue mungkin ga begitu suka korea, tapi cerita ini jadi sweet aja gitu. Simple sih, tapi part2 sweet itu susah banget dilupain apalagi kalo bener2 kejadian. Keep writing dear, jempol.

Stephanie Naomi said...

Hehehehe gue memang lebih suka sweet little thing. Ngga harus besar, tapi bermakna :') thanks Dear udah mau baca, udah mau komen hehehe oke. Gue tunggu juga tulisan2 ajaib lo :D