Add Logo PEMILIHAN TOUCH KOREA TOUR PENGALAMAN TIM EVENT

07 July 2011

[Part 5] Music, Dream and Love

“Ini helm mu.” Hyun Soo baru kembali bersuara ketika mereka sudah berada disebelah motor Hyun Soo.


“Aku pulang sendiri saja.” balas Jung Ah lalu ia berjalan kaki menjauhi Hyun Soo. Hyun Soo menaruh helm itu dibangku motornya dan berjalan cepat mengejar Jung Ah. Dan ketika ia sudah berada didekat Jung Ah, ia menarik tangan Jung Ah dan memaksa Jung Ah naik ke atas punggungnya. Hyun Soo menggendong Jung Ah dan mendudukkannya diatas bangku motornya.


“KAU! KENAPA KAU GENDONG AKU SEPERTI INI?!” teriak Jung Ah kesal. Ia segera mencium-ciumi seragamnya dengan hidungnya.


“Kenapa? Kau tidak suka?” tanya Hyun Soo seraya memberikan helm pada Jung Ah, lalu ia memakai helm miliknya sendiri.


“JELAS TIDAK! Kau berkeringat dan membuat seragamku menjadi bau!” teriak Jung Ah ketika ia sedang memakai helm pemberian Hyun Soo.


“Biarkan saja. Itu akibat kau tidak mau langsung menuruti perkataanku.” ujar Hyun Soo sambil mengenakan jaket kulitnya lalu ia naik ke atas motornya dan Jung Ah buru-buru membenarkan posisi duduknya.


“Tsk! Kau masih saja menyebalkan dan akan selalu menyebalkan!” ujar Jung Ah dengan nada tinggi namun Hyun Soo tidak membalasnya. Ia langsung menyalakan motornya dan mengendarainya pergi dari situ. Lagi-lagi, Jung Ah belum sempat pegangan dan ia langsung refleks memeluk pinggang Hyun Soo. Tidak lama kemudian tangan kanan Jung Ah menutup kaca helm miliknya dan kembali memeluk pinggang Hyun Soo. Hyun Soo langsung melaju menuju suatu tempat yang tidak diketahui Jung Ah sebelumnya. Setengah jam kemudian mereka sudah sampai ditempat yang Hyun Soo tuju. Jung Ah turun dari motor dan melepaskan helmnya dengan raut wajah kebingungan bercampur kesal.


“Ini rumah kau? KENAPA KAU TIDAK MEMULANGKANKU???!!” Jung Ah berteriak sebal ketika ia sudah membuka helmnya dan menyadari ia tidak berada ditempat yang ia kenal. Hyun Soo buru-buru menutup mulut Jung Ah dengan telapak tangannya.


“Kita berlatih dahulu. Nanti kau akan kuantar pulang.” balas Hyun Soo santai. Lalu ia berjalan memasuki rumahnya melalui pintu depan rumahnya. Jung Ah mengikuti dibelakangnya.


“Kenapa kita tidak berlatih disekolah saja?” tanya Jung Ah dengan volume kembali normal sambil melihat-lihat sebagian isi rumah Hyun Soo yang mewah dan besar.


Wonji ansemnida. Aku mau mandi dan makan.” jawab Hyun Soo santai sambil terus berjalan melewati Grand Piano hitam miliknya. Jung Ah batal membalas ucapan Hyun Soo dan berhenti didepan Grand Piano milik Hyun Soo seraya berdecak kagum.


“Mainkanlah. Aku mau mandi dulu. Jamsi gidariseyo.” lanjut Hyun Soo lalu ia pergi meninggalkan Jung Ah sendirian diruang tamu rumahnya yang luas dengan langit-langit yang tinggi. Langsung saja jari-jari Jung Ah menelusuri setiap jengkal dari Grand Piano milik Hyun Soo dan langsung membuka penutupnya. Ia langsung duduk dengan posisi ternyaman dan memainkan satu lagu: Fur Elise, Ludwig van Beethoven. Jung Ah bermain dengan sangat baik, sesuai dengan dinamika dan tempo yang tertulis dalam partitur lagu tersebut. Ia sangat terbawa suasana hingga ia tidak menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Dan ketika Jung Ah selesai bermain, terdengar tepuk tangan dari arah tangga. Jung Ah langsung mencari arah suara tepuk tangan tersebut dan mendapatkan wanita setengah baya sedang berjalan menuju arahnya dari tangga besar dan megah didekat Grand Piano milik Hyun Soo.


“Kau bermain sangat manis sekali. Kau pasti adik kelas yang Hyun Soo ceritakan padaku. Iremi muosimnika?” tanya wanita setengah baya tersebut kepada Jung Ah.


“Annyonghaseyo. Lee Jung Ah imnida. Mannaso bangabsemnida.” jawab Jung Ah sopan setelah ia berdiri dan membungkuk seperti yang diajarkan ibunya pada dirinya. “Ahjumma... Ibu Hyun Soo ssi?” lanjut Jung Ah. Wanita itu mengangguk pelan.


“Bermainlah lagi. Bisakah kau memainkan lagu ini?” tanya Ibu Hyun Soo sambil memberikan Jung Ah beberapa lembar partitur yang ia ambil dari atas piano itu. Memang diatas piano itu tersusun rapi kertas-kertas partitur milik Hyun Soo. Jung Ah menerima partitur itu dan mengangguk sambil tersenyum. Tidak sampai satu menit, Jung Ah langsung memainkan lagu yang diminta Ibu Hyun Soo: Moonlight Sonata, Ludwig van Beethoven. Selesai memainkan lagu itu dengan sangat baik, Ibu Hyun Soo kembali bertepuk tangan.


“Kau memang hebat, aku yakin konser sekolah kalian akan berjalan sukses. Ahjumma harus pergi dahulu, kau berlatih dengan Hyun Soo saja ya. Maaf aku tidak bisa menemanimu.” ucap Ibu Hyun Soo yang memang sudah berpakaian rapi dan juga membawa tas pergi.


Ne. Josimae, ahjumma. To bweibgessemnida.” balas Jung Ah sambil tersenyum dan Ibu Hyun Soo hanya membalasnya dengan senyum lalu ia pergi meninggalkan Jung Ah sendirian lagi. Jung Ah penasaran dengan tumpukan kertas-kertas partitur diatas piano Hyun Soo dan ia langsung mengambil tumpukan itu dan melihatnya satu persatu.


Oh, lagu-lagu konser sekolah besok, kupikir lagu-lagu lain.” gumam Jung Ah dalam hati sambil terus membalik kertas tersebut satu-persatu. Namun tiba-tiba tangannya berhenti membalik kertas-kertas itu. Ada 2 kertas yang tidak dicetak tetapi ditulis dengan tangan.


“Lagu apa ini? Sepertinya lagu ciptaan Hyun Soo.” Jung Ah kembali bergumam seraya mencabut kertas tersebut dari kawanannya. Tumpukan kertas lainnya ia kembali taruh diatas piano, sementara dua kertas yang ia ambil ia taruh didepannya. Ia membacanya perlahan-lahan dan mencoba memainkannya.


YAH! Siapa suruh kau memainkan lagu itu?” tiba-tiba terdengar suara Hyun Soo dari arah belakang. Jung Ah buru-buru menaruh kertas itu kembali ke tumpukannya.


“Jika kau tidak ingin ada yang memainkannya, sebaiknya tidak kau letakkan disini.” balas Jung Ah sambil menekan asal tuts piano.


“Kau yang sebaiknya tidak menyentuh barangku tanpa izin dariku.” Hyun Soo lagi-lagi tidak mau kalah dengan ucapan Jung Ah.


“Baiklah, maafkan aku.” ucap Jung Ah lalu ia duduk membelakangi piano dan mendapati Hyun Soo dengan tangan kirinya mengusap-usap kepala dengan handuknya dan tangan kanannya sedang menuang air putih dari teko di bar kecil didapur. Lalu Hyun Soo berjalan ke arah Jung Ah dan memberikan segelas air putih pada Jung Ah.


Gomawoyo.” ucap Jung Ah dan ia langsung meminum air putih itu hingga tersisa seperempat gelas.


“Dasar unta.”


“Tsk, diam kau. Ayo cepat latihan, aku ingin pulang. Pasti eomma sudah menunggu ku di rumah.”


“Kau tidak minta ijin latihan dirumahku?” tanya Hyun Soo. Jung Ah menggelengkan kepalanya.


“Gunakan ponselku, bilang kau sedang latihan dirumahku dan nanti akan kuantar kau pulang.” lanjut Hyun Soo seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memberikannya pada Jung Ah. Jung Ah menerima ponsel itu dan menekan nomor telepon rumahnya.


“Yoboseyo?”


Eomma, Jung Ah imnida. Aku pulang agak telat hari ini.”


“Kau mau kemana? Jangan pulang terlalu malam. Kau harus menjaga stamina mu, araesso?”


Ara, eomma. Aku akan latihan lebih lama dari biasanya. Nanti Hyun Soo yang akan mengantarkan ku pulang.”


“Hyun Soo?”


“Teman duetku.”


“Ooh, baiklah. Kau jangan lupa makan ya.”


Ne, eomma.” ucap Jung Ah dan ia menggeser slide ponsel Hyun Soo kebawah lalu memberikan kepada pemiliknya.


“Biar kutebak, pasti ibumu menyuruhmu agar tidak telat makan, benar kah?” tanya Hyun Soo.


“Kurang lebih seperti itu.” jawab Jung Ah yang refleks memegang perutnya yang terasa lapar.


“Ayo makan dulu saja, aku tidak mau sampai kau sakit lalu ibumu menuduhku tidak memberikan makan padamu. Tadi aku lihat sekilas dimeja dapur Eomma membuat sesuatu yang kelihatannya lezat.” Hyun Soo berjalan menuju dapur diikuti Jung Ah sambil membawa gelas yang tadi diberikan kepadanya. Lalu mereka pun duduk berhadapan dan langsung menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Ibu Hyun Soo. Jung Ah menyantapnya dengan cepat.


“Kau ini sebenarnya unta atau hamster?” ledek Hyun Soo setelah ia menelan makanan dalam mulutnya seraya memperhatikan Jung Ah.


“Diam kau, aku ini kelaparan. Mmm masakkan ibumu enak sekali.” balas Jung Ah dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


“Dasar bocah ini, selesaikan saja dulu makanmu baru bicara.” ucap Hyun Soo dan ia kembali menyuap makanan kedalam mulutnya dan mereka kembali dalam keheningan. Dalam 10 menit Jung Ah sudah menghabiskan makanannya dan menegak habis air putih dari gelasnya.


“Fuuh, kenyang sekali...” gumamnya.


“Jelas saja kenyang, porsi mu seperti kuli.” balas Hyun Soo yang juga sudah menghabiskan makanannya.


“Diam kau. Nah, kalau sudah seperti ini sekarang aku bisa fokus latihan.”


“Alibi... Baiklah, kau tunggu disana aku mau mencuci dan membereskan meja makan dahulu.”


“Biar ku bantu.” Jung Ah mulai mengambil mangkuk, sumpit dan sendok yang ia gunakan lalu membawanya ke wastafel dapur untuk dicuci.


“Sudah kubilang kau tunggu saja disana, lagipula aku sudah biasa melakukannya sendiri.” Hyun Soo menggeser Jung Ah dari depan wastafel dapur dan mulai memakai sarung tangan dan menyalakan kran. Ia mulai mencuci peralatan makan yang ia dan Jung Ah gunakan. Jung Ah tetap berada di sisi Hyun Soo dan memperhatikan lelaki itu mencuci.


“Wooooow, tidak kusangka, ternyata kau cukup mandiri juga yah...” ujar Jung Ah sambil tetap memperhatikan Hyun Soo mencuci.


“Kenapa? Kau seperti baru pertama kali melihat orang mencuci piring saja.”


“Memang, aku baru pertama kali melihat seorang laki-laki mencuci piring. Adikku saja tidak pernah, apalagi ayahku.” Hyun Soo hanya tersenyum mendengar Jung Ah berceloteh disampingnya seperti saat ini.


“Ah ya, Hyun Soo, lagu tadi, itu ciptaanmu sendiri? Sepertinya belum selesai ditulis...” Jung Ah kembali bersuara.


Ne, wae?”


Aniyo~ aku juga baru tahu ternyata kau bisa menulis lagu. Tuliskanlah lagu untukku, Hyun Soo!” Jung Ah menarik lengan baju Hyun Soo perlahan sambil memasang raut wajah memohon. Hyun Soo berhenti mencuci, ia menoleh ke arah Jung Ah.


Wonji ansemnida.” ucap Hyun Soo singkat lalu ia kembali mencuci. Jung Ah refleks merengut seperti anak kecil. Hyun Soo melihat wajah Jung Ah dan terkekeh sendiri.


“Kau, sekarang sudah menjadi penggemarku ya? Setahuku, kau adalah wanita yang tercuek dan tidak peduli padaku sama sekali di sekolah.” sambung Hyun Soo.


“Tsk! Aniyo~! Bukan begitu.” balas Jung Ah cepat lalu ia pergi meninggalkan Hyun Soo sendirian didapur menuju ruang tamu.


“Hey Jung Ah, kau marah padaku?” tanya Hyun Soo dari dapur sambil berteriak. Ia sudah selesai mencuci piring dan bergegas menyusul Jung Ah yang sedang menekan tuts-tuts piano dengan asal.


Yah! Lee Jung Ah, kau marah padaku?” Hyun Soo mengulang pertanyaannya. Jung Ah menggeleng perlahan lalu ia memberi tempat untuk Hyun Soo duduk disebelah kirinya.


Gojitmal.” ucap Hyun Soo pelan sebelum mereka memulai permainan piano duet mereka.


“Untuk apa aku bohong padamu.”


“Sudahlah, jujur saja, kau marah padaku?” tanya Hyun Soo. Jung Ah diam tidak menjawab. “Geraeyo... Aku minta maaf padamu. Akan kubuatkan lagu untukmu. Tapi sekarang kau jangan marah padaku lagi, ok?” lanjut Hyun Soo. Kali ini dia yang berbicara dengan nada memohon.


“Kau pikir aku anak kecil? Tidak usah, hanya merepotkanmu saja. Lagipula aku kekenyangan, buka marah padamu.” balas Jung Ah berbohong. Dalam hati kecil Jung Ah, jelas ia iri sekali dengan orang yang menjadi inspirasi Hyun Soo dalam menulis lagu.


“Baiklah, aku sudah berbaik hati tetapi kau menolak. Kali ini, ini salahmu. Sekarang, ayo kita latihan.” ucap Hyun Soo lalu ia mengambil partitur dari atas Piano nya dan menaruh didepan mereka berdua, ditempat yang memang disediakan untuk menaruh partitur. Dan mereka langsung berlatih dan fokus pada bagiannya masing-masing.


***


Gomawoyo, Hyun Soo.” ucap Jung Ah ketika ia sudah turun dari motor dan melepas helm nya dipinjamkan Hyun Soo padanya. Hyun Soo hanya tersenyum kecil. “Kalau begitu, aku masuk dulu ya. Josimae.” lanjut Jung Ah lalu ia membuka pagar rumahnya dan segera berjalan masuk kedalam sebelum Hyun Soo menghentikan langkahnya.


Jamsi gidariseyo, Jung Ah.”


Wae?” tanya Jung Ah. Ia kembali berbalik badan dan memperhatikan Hyun Soo.


“Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Terima kasih untuk hari ini, Jung Ah.” jawab Hyun Soo dengan nada suara yang berbeda. Terdengar lirih dan sedikit malu. Sesaat, keduanya tidak saling bicara. Hyun Soo menunggu balasan dari Jung Ah.


“Oooh... Aku kira kau akan berbicara apa. Baiklah, sampai jumpa di klub musik besok.” balas Jung Ah lalu ia tersenyum dan masuk meninggalkan Hyun Soo yang masih duduk diatas motornya didepan rumah Jung Ah. Hyun Soo terdiam sesaat lalu ia menutup kaca helmnya dan pulang kembali ke rumahnya. Dalam waktu 15 menit Hyun Soo sudah sampai dirumahnya dan saat ini ia sedang bermalas-malasan dikursi malas yang diikat pada dua tiang di balkon lantai dua rumahnya sambil membaca kertas-kertas partitur yang ia buat sendiri. Lalu, ia mengambil ponsel dari sisi tubuhnya dan menelepon seseorang.


Yoboseyo...” terdengar suara diseberang telefon.


“Min Hae-ah, bagaimana pertandingan tadi?”


“Menurut kau?”


“Kita menang.”


“Dasar kau ini percaya diri sekali. Tidak, kita tertinggal 1 point.”


MWO?!”


“Betul, sebenarnya aku ingin menyalahkanmu, karena setelah kau pergi semangat dilapangan jadi sangat berkurang. Tapi aku berpikir netral. Ini bukan salahmu, selama pertandingan mereka terlalu mengandalkanmu sampai kau kecelakaan seperti itu.”


“Aiissh, sebenarnya aku jatuh juga karena kesalahanku. Benar kata Jung Ah, sepertinya aku bermain terlalu agresif. Mungkin tadi aku berpikir aku adalah manusia turbo.” Hyun Soo tertawa kecil sendiri dengan ucapan yang baru saja ia katakan.


“Memang, kau tadi bermain seperti dikejar hantu. Kenapa? Kau berantem dengan Jung Ah saat break tadi?”


Aniyo~.”


“Pasti lagi-lagi kau keras kepala.” celetuk Min Hae dan membuat Hyun Soo terdiam. “Hyun Soo? Are you still there?” Min Hae kembali bersuara setelah tidak ada tanggapan dari Hyun Soo tentang kata-kata terakhirnya.


Ye~. Sudah ya, Min Hae, aku ingin tidur.” ucap Hyun Soo berbohong.


Geraeyo.”


Klik. Hubungan telepon terputus. Hyun Soo tidak beranjak dari kursi malasnya. Ia justru mengambil papan untuk alas menulis dan pensil dari meja kecil disampingnya lalu kembali melanjutkan karya nya yang belum terselesaikan.


Ibu Hyun Soo baru saja tiba dirumahnya dan langsung berjalan menaiki tangga. Ia menghampiri balkon lantai dua dan melihat Hyun Soo yang tertidur dikursi malas dengan kertas-kertas berserakan di lantai dan ada juga yang berada didalam dekapannya.


“Hyun Soo..” Ibu Hyun Soo mencoba membangunkan anak tirinya itu. Hyun Soo bergerak perlahan dan sedikit menggeliat. Kertas dan papan yang berada didalam pelukannya pun jatuh ke lantai. Ia membuka matanya perlahan dan mendapatkan ibunya berdiri disisinya.


Eomma, sudah pulang daritadi?”


Aniyo~. Sebaiknya kau bereskan kertas-kertas ini lalu tidur dikamarmu. Hari ini kau sepertinya melakukan banyak hal.”


Geraeyo.” Hyun Soo mulai bangun dari kursi malasnya dan memungut satu persatu kertas yang berserakan di bawah kursi malasnya. Kertas-kertas dari karya nya yang gagal, yang tidak sesuai dengan keinginannya. Lalu ia memungut kertas terakhir yang tersisa, yang masih terjepit dipapan alas menulis. Ia melepas kertas itu dari papan, meletakkan papan di meja kecil dan membawa masuk kertas itu. Sementara kertas-kertas yang lain ia taruh di bawah papan alas itu. Ia menutup pintu balkon dan berjalan memasuki kamarnya. Di dalam kamar, ia menaruh kertas itu bersama dengan dua kertas lainnya yang sudah dilihat oleh Jung Ah tadi siang.


“Dasar bodoh, kau tidak tahu aku menulis ini untukmu?” gumam Hyun Soo sendiri lalu ia pun bergelung dengan guling dan selimutnya.


To be continue... :)


***


Footnote:

Wonji ansemnida: tidak mau

Jamsi gidariseyo: tunggu sebentar

Iremi muosemnika: siapa namamu?

Mannaso bangabsemnida: senang berjumpa dengan anda

Ahjumma: bibi/tante

Josimae: hati-hati

To bweibgessemnida: sampai jumpa lagi

Gomawoyo: terima kasih

Gojitmal: bohong

No comments: