Add Logo PEMILIHAN TOUCH KOREA TOUR PENGALAMAN TIM EVENT

08 July 2011

[After Story] Music, Dream and Love

Jung Ah berjalan menerobos malam Natal yang dingin akibat salju-salju yang mulai turun dari langit sedikit demi sedikit. Ia menyusupkan kedua tangannya kedalam saku mantelnya dan lebih cepat lagi berjalan untuk sampai di halte bis. Tas punggung nya setia menemaninya dan juga rambutnya yang mulai tumbuh lebih panjang dibiarkan tergerai. Akhirnya ia sampai di halte yang saat itu sedang sepi. Ia langsung duduk, membuka sarung tangannya dan mengeluarkan ponsel dari saku mantelnya. Terdapat 2 pesan dari orang-orang yang ia cintai.


Jung Ah, cepatlah pulang. Ibu buatkan sup hangat untukmu. Jangan lupa pakai sarung tangan, nanti kau sakit.


Lee Jung Ah, kemana saja kau Unta? Aku menelepon ke rumahmu tapi kata Ibumu kau belum pulang. Cepatlah pulang. Aku merindukanmu.”


“Cih, merindukanku? Pulang ke Korea saja kau tidak mau.” gerutu Jung Ah membaca pesan terakhir dari Hyun Soo. Ia menutup flip ponselnya dan langsung berdiri, melihat bis yang sebentar lagi akan datang dan membawanya pulang kerumah.


Sesampainya dirumah, Jung Ah langsung masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian. Namun ia menundanya, melihat sebuah kotak yang cukup besar tergeletak diatas tempat tidurnya dengan kartu ucapan yang terselip di pita yang mengikat kotak tersebut. Jung Ah duduk disebelah kotak itu dan menaruh kotak itu dipangkuannya. Lalu, ia membaca isi kartu ucapan tersebut.


My Dearest Lee Jung Ah...

Aku tahu kau pasti masih sedikit kesal, bahkan masih kesal karena aku tidak pulang ke Korea padahal sudah 2 kali liburan tetapi aku tetap berada disini. Aku tahu kau pasti merindukanku, jadi untuk saat ini sebagai penggantiku, kuberikan mantel ini untukmu. Gunakanlah ketika kau keluar nanti. Cuaca Korea malam ini cukup dingin. Dan perlu kau tahu, mantel ini lebih tebal dari mantel-mantel yang kau miliki. Jelas saja, bisa dikatakan ini barang import. Ku harap kau menyukainya ^^


Lots of Love

Kim Hyun Soo


Perasaan Jung Ah campur aduk, antara mau marah dan senang. Tetapi senyum mengembang jelas di wajah Jung Ah. Ia langsung menaruh kartu ucapan itu, membuka kotak itu dan mendapatkan sebuah mantel berwarna Beige yang terlipat rapi didalam kotak tersebut. Jung Ah langsung mengambil mantel itu dan membukanya. Ia merasakan bahan mantel yang sangat lembut, hangat dan tebal. Benar apa yang ditulis Hyun Soo dalam kartu ucapannya. Jung Ah langsung menggantung mantel itu didalam lemarinya, menyimpan kartu ucapan dan juga kotak pemberian Hyun Soo lalu ia bergegas keluar kamar.


“Ibu, siapa yang mengirimkan paket untukku?” tanya Jung Ah.


“Ibu tidak tahu, paket itu datang belum lama sebelum kau tiba. Yoon Ah yang menerimanya.” jawab Ibu Jung Ah yang masih membereskan meja untuk makan malam. Jung Ah buru-buru menghampiri adik lelakinya yang sedang menonton tv.


“Yoon Ah, siapa yang mengirimkan paket itu untukku?” tanya Jung Ah yang langsung duduk disebelah Yoon Ah.


“Aku tidak tahu, aku tidak kenal, bahkan aku saja tidak bisa melihat wajahnya.” jawab Yoon Ah yang masih sibuk dengan remote tv yang seraya tadi ia tekan untuk mencari acara yang bagus.


Jung Ah langsung menyambar remote tv dari tangan Yoon Ah dan menekan tombol power. TV itu mati dan Yoon Ah langsung memasang raut wajah protes.


“Berikan padaku remote nya!”


“Jelaskan dulu apa maksud ucapanmu tadi.”


“Aku tidak tahu siapa, Noona. Ia memakai helm dan juga jaket tebal. Ia langsung berikan padaku kotak itu dan ia juga memberikan ku secarik kertas. Tulisannya: untuk Lee Jung Ah. Jadi langsung saja aku masuk dan menaruhnya di kamarmu.” Yoon Ah menerangkan lebih detail sesuai permintaan Jung Ah. Jung Ah terdiam sesaat dan pada kesempatan itu Yoon Ah langsung merebut kembali remote tv dari tangan Jung Ah. Tetapi ia tidak peduli. Ia langsung kembali masuk kedalam kamar diikuti dengan raut wajah heran dari Yoon Ah dan juga Ibunya yang melihat sedikit dari dapur. Didalam kamar Jung Ah kembali mengambil kartu ucapan dan membaca ulang kata-kata dari Hyun Soo. Dan tanpa membuang waktu ia langsung mengambil mantel yang baru saja ia terima dari Hyun Soo, mengantongi ponsel dan kartu ucapan itu serta keluar dari kamarnya.


“Ibu! Yoon Ah! Aku pergi sebentar!” teriaknya sambil mengenakan sepatu boots miliknya.


“Kau mau kemana, sayang? Diluar hujan salju mulai cukup deras.” sambut Ibu Jung Ah yang buru-buru menaruh panci diatas meja dan menghampiri Jung Ah yang ia kira sedang memakai sepatu tetapi ternyata Jung Ah sudah pergi tanpa membawa payung. Jung Ah berjalan cepat tanpa menggunakan penutup telinga ataupun sesuatu untuk melindungi kepalanya dari hujan salju. Ia menyusupkan kembali tangannya ke dalam kedua sakunya sambil meneriakkan nama Hyun Soo.


“Kim Hyun Soo! Dimana kau?!”


Tidak ada jawaban. Jung Ah berjalan lagi dan mulai berteriak lagi. Ia mengeluarkan tangan dari sakunya dan menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya.


“Kim Hyun Soo! Keluarlah kau!”


“Kim Hyun Soo!!!”


“Hyun Soo! Ini hujan salju! Jangan bertindak bodoh!”


Jung Ah berteriak namun ia merasa percuma. Ia berhenti berjalan, mengambil ponsel dari saku mantelnya dan langsung menghubungi nomor Korea Hyun Soo. Memang nomor ponsel Hyun Soo berbeda ketika ia berada di Inggris dan ketika ia berada di Korea.


“Aktif!” Jung Ah merasa ada secercah harapan. Nada sambung yang hanya tut-tut-tut mengisi kebisuan malam itu. Tetapi tidak ada jawaban. Jung Ah menelepon kembali, hasilnya masih nihil. Dan Jung Ah memutuskan untuk menelepon yang ketiga kalinya. Kali ini, hasilnya berkebalikan dengan yang sebelumnya.


“KIM HYUN SOO DIMANA KAU???!!!” teriak Jung Ah tanpa memakai salam terlebih dahulu.


“Hei, pelan-pelan saja. Gendang telingaku bisa pecah.”


“DIMANA KAU?!” Jung Ah tetap berteriak, namun dengan volume yang sedikit lebih pelan.


Hyun Soo tidak menjawab, tetapi saat itu juga Jung Ah merasa ada yang melindungi badannya dari hujan salju. Ia mendongak keatas dan mendapatkan sebuah payung bening yang melindunginya. Ia buru-buru berbalik dan mendapatkan Hyun Soo yang sedang memayunginya, sementara tangan kirinya masih memegang ponsel yang masih ditempelkan ditelinga.


“Selamat Natal, Lee Jung Ah.” ucapnya pelan dan lembut. Ia menggeser slide ponselnya ke bawah dan menaruhnya di saku. Jung Ah lagi-lagi tidak dapat berkata apa-apa.


“Lain kali, jangan kau bilang aku yang bertindak bodoh. Seharusnya kau lihat dirimu yang bertindak lebih bodoh daripadaku. Kemana penutup telingamu? Kemana payungmu? Topimu?” lanjut Hyun Soo dengan nada sedikit mengomel.


“KAU INI KETERLALUAN! Datang-datang langsung saja mengomeliku. Ini semua akibat ulahmu!” balas Jung Ah, keras kepala.


“Baiklah, maafkan aku karena aku tidak bilang apapun padamu. Lagipula kalau aku bilang padamu, namanya bukan lagi kejutan, dong?”


Dan Lee Jung Ah langsung meloncat untuk menggapai leher Hyun Soo dan memeluknya erat.



THE END

No comments: